Jumat, 09 Mei 2014

Freedom

Dia masih terikat, kau tau?
Ikatannya tidak pernah kau lepas
Ikatan mati

Aku biasa melihatnya di teras depan tempatnya duduk kala fajar menyerbu
Aku hanya melihatnya di jendela tempatnya biasa bersandar menghabiskan sore
Siangnya, malamnya
Setiap harinya
Dia terikat
Kau terkeji

Biarkan dia tetap menyala walau dalam terang
Biarkan dia tetap bicara walau dalam bising
Tidak akan menyerang
Tidak akan menyingsing
Tidak mematikanmu

Kau tau, hanya saja tidak mau
Kau kalah, tapi tidak mau menyerah
Kau sebut gigih namanya
Keras kepala maknanya
Kau membela

Lalu berlalu

Aku masih terpaku di tempatku
Geram bukan main


For you who always keep your deepest quest
You need freedom, it is not time, it is not chance
Release that bond, dude!

Sabtu, 26 April 2014

Saat Senja Datang

Aku selalu senang saat senja datang, mengantarkan malam, menawarkan gelap.
Aku selalu tertegun saat mentari sampai di dermaganya, menyampaikan salam, menitipkan bulan.

Aku selalu tertipu dalam ilusi kerajaan awan, melepaskan tapi tak pernah menangkap.
Aku selalu terpukau di setiap distorsi biasan warna, seakan merona lalu merana oleh bualan.

Aku selalu terhempas saat angin menghampiri, terhentak hebat dalam sigap.
Aku selalu terkagum saat ombak bergulung, tak pernah lelah walaupun tak kenal buaian.

Aku selalu senang saat senja datang.
Aku terlalu senang saat senja datang, hingga aku tau jingga berubah menjadi singgah.
Tapi, aku tetap senang saat senja datang.
Mengantarkan malam.
Menawarkan gelap.


Tulisan lama
Beberapa hari setelah skenario selesai
19.45
7 Februari 2012

Teori Relativitas Khusus Albert Einstein

Pernah dengar teori relativitas khusus Albert Einstein tahun 1905?
"Jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam yang relatif sama, maka tidak dapat diketahui apakah mereka bergerak atau diam"

Setelah kubaca dan kupahami, teori ini benar adanya.

Kulihat kau diam dan aku diam,
dan kita diam.

Kulihat kau bergerak dan aku bergerak,
pada kecepatan yang signifikan, aku masih bisa tau aku berpindah,
karena acuanku adalah dirimu.

Lalu, kulihat kau bergerak dan aku bergerak,
pada kecepatan yang konstan, seiringan,
tanpa pernah aku simpulkan aku berpindah,
karena acuanku adalah dirimu.
Dan aku melihat dirimu disampingku, seperti cermin.
Kulihat dirimu adalah aku


Tulisan lama
08.32
10 April 2011

Kamis, 23 Januari 2014

Hari ini Aku Pulang


Tidak mudah mencapai rumah dalam cuaca buruk begini, hujan dimana-mana, macet membara, banjir menerjang. Lebih dari 600km, semakin banyak banjir dan hujan yang harus dilewati. Pesawat sering memberi harapan palsu karna cuaca mengajarkannya begitu. Kereta api terlebih lagi. Dan bus sudah wafat untuk minggu ini.
Begitu sulit untuk pulang. Nasib anak rantau homesick, semuanya aku bayar hanya untuk sampai rumah lebih cepat barang 1 jam pun.

Pertama kali naik kereta. Ini tidak terlalu buruk. Hanya delay 7 jam. Aku masih menikmati perjalanan ini, sawah yang seperti savana dan petani-patani sabar itu. Aku amat menanti keretaku berhenti di Jakarta kota dengan segera. Sahabatku sudah menunggu disana, ibu ayahku sudah menunggu dari dulu.

Aku pulang
Semester ini semester hebat untukku, dengan kewajiban semakin banyak, hak semakin sedikit, dan beban di pundak yang semakin berat. Tidur dan makan hanya sampingan lalala. Semakin aku ikuti LKMMD rasanya aku gagal lulus LKMM PD, manajemen waktuku sangat buruk, sampai-sampai makan hanya 1 kali sehari, dan tidur hanya 3 jam saja. Tapi selalu ada sesuatu untuk dikorbankan, karna kita hanya 1 raga, dan pilihan mengacaukan.

Dalam kepulangan ini, aku berharap banyak. Santai bersama keluarga, jalan-jalan kemana-mana, tertawa bersama-sama. Dan yang paling penting lagi, mengistirahatkan pikiran dan tubuh kecil ini, untuk menjadi lebih kuat di semester berikutnya. Medan lebih sulit, lebih kejam tentu saja. Tetapi sesuai hukum alam, pemandangan akan semakin menakjubkan. Dan aku berharap ini momentum terindah dalam proses pendewasaanku, menuju tahap pendewasaan berikutnya.

Ibu, ayah, adek, sambut hangat aku ya. Peluk seerat mungkin, tapi jangan menangis.

Dalam kereta
24 Januari 2014
08.03


Kamis, 09 Januari 2014

Niat Baik

Sebaiknya harus bersikap seperti apa?
Mengalahkah?
Sabarkah?
Pasrah?

Jangan tekan aku dengan dinginnya mata elangmu itu, apalagi bahasa isyaratmu. Aku tau kamu, kamu, kalian, tidak menginginkanku.

Aku harus mengaku, aku sependapat denganmu. Aku akan berpikir sepertimu bila aku kamu.
Tapi ternyata menyedihkan ya menjadi aku.

Dan sekarang aku bimbang harus bersikap seperti apa.
Dasar bijaknya pemikiranmu, dan rasa sedihnya menjadi aku.

Rasa lelah, kesal, gelisah itu tidak lagi ada.
Semua tertutupi dengan maksudmu yang tidak bisa disembunyikan, bahkan seolah menunjukkan.
Kamu benar, tapi apa aku harus salah?

Kamu, kamu, kalian besar
Aku kecil
Dan aku bertahan
Aku tidak membuktikan
Hanya niat baik tidak boleh dibatalkan

Minggu, 05 Januari 2014

Bukan Hanya Sekedar Dibagi Menjadi 2, Tapi 5


Tidak mungkin mengundurkan diri, tidak mungkin.
Terlebih melarikan diri, akan sangat keterlaluan.
Semua harus dijalani.
Wajarlah ada pahit, ada senang.
Tapi rasanya sekarang tidak imbang.
Semua orang melihat aku senang.
Aku tidak begitu.
Sekarang aku hilang.
Benar-benar sendirian.
Aku terhempas, entah kepada siapa harus mengadu.
Bersandar, dirangkul, dipeluk.
Malaikatku tidak mungkin lagi, malaikatku sedang terluka.
Aku ingin pulang.

Lantai menjadi segalanya bagiku, melebihi sandaran, rangkulan, pelukan.

Aku harus bertahan, kuatkan hamba, wahai pemilik waktu.


Minggu, 5 Januari 2013      22.28
Ditengah peliknya UAS dan Ormawa

Selasa, 24 Desember 2013

Berderai

25 Desember 2013
01.38 A.M.

S
etahun belum genap memang, tapi masa bakti ini sudah menemui batas akhir. Terlalu cepat untuk hati yang senang, bahkan sedih pun. Perkumpulan ini bukan hanya sebuah kelompok yang mempunyai visi yang sama, atau sekedar mencari pengalaman, ilmu, relasi, dan mengisi waktu. Tapi lebih lebih dari itu. Seperti halnya anak yang tidak bisa memilih dikandung oleh rahim ibu yang mana, atau pun seorang penikmat kesendirian yang tidak bisa memilih tetangganya. Tuhan berkata terjadi, dan benar-benar terjadi. Menyatukan orang-orang di perkumpulan ini. Keluarga ini.

Pertama kali memilih untuk bergabung dengan departemen PSDM adalah bukan pilihanku, ini saran temanku, yang entah ingin mencebloskanku kemana. Beruntungnya aku mengikuti sarannya. Banyak hal yang merubah pola pikirku disini. Pengkaderan, bukanlah segala hal yang aku rasakan dan pikirkan selama 5 bulan awal aku kuliah. Aku menjadi semakin mengerti dan paham, bahwa kaderisasi lebih dari sekedar bentakan, paksaan, ataupun tidak ada kerjaan. Disinilah aku banyak belajar dan disadarkan terhadap sesuatu yang aku benci. Dan aku menarik kesimpulan, sudut pandangku sangat sempit. Perkumpulan ini berhasil membuka kepalaku, mengambil bagian chip yang rusak dan menggantinya dengan yang baru, bahkan membersihkan beberapa bagian yang sudah kusam.

Di bawah kepemimpinan Mas Akbar, aku menemukan rumahku di perantauan ini. Aku tidak bisa berbohong dan berkata rumahku adalah jurusanku seperti yang banyak orang bilang dan paksakan. Rumahku disini. Saat aku bingung, gundah, sedih ataupun senang. Aku selalu tau kemana harus pulang.

Entah keajaiban apa yang bisa meleburkan kita menjadi satu tubuh yang utuh, satu bagian yang saling mengisi bagian lain, yang saling mewajari suatu kekurangan, dan berjalan bersama tanpa meninggalkan apapun kecuali jejak.

Banyak sekali cerita yang kita buat disini, kisah tentang kunjungan HMJ sampai cinta yang rumit. Ah, masalah cinta lagi, mungkin cuma aku yang independen, sudahlah aku tetap bangga.

Sekarang, kita sudah tiba di persimpangan jalan, jalan yang terpisah dan kita tidak mungkin lagi mempunyai agenda rutin untuk membahas sesuatu. Kita tidak lagi mempunyai waktu untuk menegangkan urat saat program kerja tidak semulus yang kita harapkan dan meregang saat berjalan sukses dan surplus banyak. Jalan yang kita pilih tentu saja akan lebih panjang dan berliku. Dan aku percaya, Tuhan mengatur segalanya begitu indah. Di buku-Nya, jalan hidup kita sudah ditulis, hanyalah usaha yang sepadan dengan doa yang tinggal kita lakukan. “If everything had been written down, so why worry”.

Aku akan sangat merindukan masa-masa kita bersama dalam hal apapun. Aku akan merindukan perhatian dan nasihat Mas Akbar. Pemberi solusi hati, Mas Ebtian. Ide-ide dan kunci motornya Mas Hafa yang sering menghilang. Kedatangan dan keterbukaannya Mas Kahar. Kesigapan membantu dan sabarnya Mbak Ais. Candaan Nanang yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Kealayan Unge yang ga terlalu kronis. Kreasi Elda yang memikat. Kepemimpinan dan tebengan Albanu yang ga pernah mengeluh. Ketenangan Umair. Kesundaan aa Syihab. Keteguhan Mas Syamsul. Bad mood-nya mbak Natia. Rajinnya Mas Bagus. Dan Rosi yang misterius.

Kepengurusan ini memang resmi berakhir. Tapi aku tidak mau ucapkan “selamat tinggal”, dan bahkan “sampai berjumpa lagi”. Aku ingin kehangatan ini tidak pernah mendingin.

Aku sayang keluarga hebat ini.
Dan sekarang, aku tidak tau kemana harus pulang sementara air mata terus berderai.

Thousand candles lighted, and each candle is a prayer
Let us break the darkness through this little candle light
Let us throw the darkness through this little candle light
Thousand flowers bloom, and each flower is a hope
Let us be the people who bring a better tomorrow
With strength and hope, we cover it by love
Only with strength and hope we bring a better tomorrow
I know someone standing forward in this believe in
The most person with a big hope and strength
And a part of they has grown in me
Inspired my whole life
They bring me to a new vision of life
....as time goes by