Halo, sudah hampir 9 bulan ya gak pernah posting tulisan lagi. Kalau di dunia reproduksi ini pasti sudah jadi masa-masa tegang dimana akan ada cucu-cicitnya Adam yang terlahir di dunia, kadang kehadirannya membawa kebahagiaan keluarga yang menunggu, kadang malah membawa malapetaka keluarga yang ditunggu petaka.
Aku sekarang sudah jadi mahasiswa semester 2 lho, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang yang awalnya memang bukan pilihanku. Dan pilihan awalku dulu juga bukan pilihanku sebenarnya. Dunia jadi ribet saat banyak pilihan, tapi juga jadi sepi kalo gak ada pilihan. Dan jadi tambah ribet lagi kalau menelusuri diri sendiri apa yang sebenarnya ingin kita pilih, realistis selalu tergantung dengan baik di setiap pilihan yang kita tembak.
Bicara soal kuliahku, ini benar-benar diluar apa yang sudah aku rancang. Be-ran-tak-kan. Yup, aku harus adaptasi dan jadi pribadi baru lagi seperti dulu. Aku selalu beranggapan, aku sudah pernah melalui hal seperti ini, jadi ya gak masalah kalau harus ulangi lagi. Tapi medan yang sekarang berbeda, dan aku cukup babak belur dibuatnya.
Sebenarnya aku bahagia di perantauan ini, dengan segala kekacauan soal kuliah dan masalah didalamnya, ataupun saat setiap malam selalu nangis minta pulang. Aku senang karena aku bisa mengambil tindakan yang menurutku bijak saat itu. Aku banyak belajar lebih dari apa yang aku pelajari saat pertahananku pertama dulu. Ya, pembelajaran kehidupan itu lebih dari segala-galanya. Dan... mari kita memulai lagi!
Minggu, 10 Februari 2013
Senin, 14 Mei 2012
Kamis dan Air
Kamis jam 13.30, pertama kali
aku bernapas menggunakan paru-paruku sendiri, yup aku sudah ada di dunia
walaupun tidak ada yang aku ingat saat itu. Menurut primbon, kamis itu artinya
pohon. Tapi entah kenapa aku suka tidak beruntung kalau sudah berhubungan
dengan air. Selalu aja ada kejadian tidak terduga dengan air selama study tour
di SMA. Apa pohon bermusuhan dengan air ya?
1. Tahun Pertama
LIPI dan Dufan menjadi tujuan
study tour tahun pertama. Dan kejadian dengan air terjadi waktu bermain arung
jeram di dufan. Kapal karet yang aku tumpangi tidak mendapatkan keseimbangan,
sehingga saat aku berdiri, aku terjatuh dan terbawa arus sampai masuk ke celah
beton. Gelap dan tidak ada udara. Aku mencoba mencari pertahanan supaya tidak
terbawa arus, akhirnya jaket yang aku pakai nyangkut, sedikit demi sedikit aku
mulai mencari udara. Aku seperti orang linglung antara sadar dan tidak. Aku
masih tidak percaya bisa berada di tempat ini.
Tidak berapa lama ada tangan
yang memegang tanganku. Mencoba menarikku keluar, tapi tidak bisa karena aku
terperangkap. Arus air langsung terhenti dan petugas dufan menolongku. Mengangkat tubuhku diantara celah beton yang
sempit, kurang dari 15 menit, ternyata waktu begitu lama untuk orang yang
ketakutan.
2. Tahun Kedua
Tahun kedua ini sebenarnya lebih
banyak study-nya. Tujuannya adalah Ujung Genteng, pantai yang masih cukup asri
dengan biota pesisir ataupun lautnya, karena tidak terlalu banyak wisatawan
yang datang. Kejadiannya terjadi saat mencari biota laut jaraknya mungkin
sekitar 50 m dari garis pantai, tapi air mulai pasang sehingga guru pembimbing
menyuruh untuk pulang. Terlalu jauh untukku jika harus kembali ke rombongan,
sehingga aku memberanikan diri untuk pulang sendiri saja. Tapi ternyata air
pasang begitu cepat. Dia kembali lagi ke tempatku, dan menemani sampai tiba di
pesisir. Masih orang yang sama. Terima kasih ya.
3. Tahun Ketiga
Tahun ini study-nya minim sekali,
lebih banyak bersantainya. Objek-objek wisata di Jogjakartalah tujuannya, pati
sudah ketebak apa saja objek-objeknya. Aku terlambat menaiki bus, dan langsung
saja aku simpan tasku di samping tempat dudukku. “Tan, tasnya disimpen di
bagasi bawah”. Langsung aku turun dan menaruhnya, tasku jadi terletak paling
dekat pintu garasi karena menaruhnya paling akhir. Perjalanan menuju Jogja
cukup lama kurang lebih 15 jam, dan cuaca lebih banyak hujan.
Tibalah di penginapan, saat aku ambil tasku,
ternyata basah. Karena tasnya terbuat dari kain dan air hujan masuk ke
celah-selah pintu bagasi dimana tempat tasku berada, jadilah keadaan basahnya
sekitar 75% dari keseluruhan barang yang aku bawa. Hari itu sudah pukul 11.30
malam, aku pergi ke receptionist berharap ada laundry kilat sehingga besok pagi
aku sudah bisa memakai baju kering. “Tidak bisa, mba. Kalau mau besok pagi jam
8”. Aku pergi ke kamar, mencari akal untuk mengeringkan baju yang ternyata pada
luntur. Aku frustasi. Aku cari sabun untuk mencucinya. Ah, lunturnya tak mau
pergi! Saat itu pukul 01.00, kulihat teman kamarku sudah tidur semua, aku
keluar hotel membawa baju luntur itu. Kemudian, sebelum di gerbang hotel aku
bertemu salah satu guru, “Tan, mau kemana?”. Aku menjelaskannya. “Wah jangan
sendiri atuh, ditemenin ya, nah itu ada temenmu, To, temenin Intan”. Akhirnya
aku ditemani sama temenku yang satu organisasi itu. Waktu sudah pukul 02.00,
sekeliling hotel sudah kami telusuri. Hasilnya nihil. Akhirnya kami pulang.
Terima kasih ya, To.
Pukul 05.00, aku meminjam
setrikaan warga, akhirnya cukup kering juga walaupun masih bisa terasa
dinginnya air yang menyerap di baju yang aku pakai. Lalu baju yang luntur, aku
titipkan di laundry sebelum pergi menuju tempat tujuan kami di Jogja.
Semoga
tidak ada pengalaman buruk dengan air lagi. Tapi lewat kejadian-kejadian ini,
aku bersyukur ada orang-orang yang masih peduli dan baik yang mau menolongku.
Sekali lagi, Terima kasih, ya.
Hey,
water, please, to be my friend. Sincerely, the tree.
MaFiKiBi
Pertama-tama aku mau minta izin untuk mengubah kata ‘aku’ menjadi
‘gue’, entah kenapa artikel ini sedikit banyak menuju ke hal-hal konyol selama
di SMA, dan kata ‘gue’ benar-benar sangat menunjang sensasinya.
Baiklah kita mulai, judul artikel ini bukan sengaja dibikin alay.
MaFiKiBi: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, bagaikan nasi buat gue yang
memang milih program IPA. Kenapa gue cerita tentang MaFiKiBi? Karena gue anak
IPA. Kenapa gue milih program IPA? Karena waktu kelas X gue selalu diremed
biologi. Lho? Kok? Iya, jadi gini gue penasaran banget buat naklukin biologi di
SMA jadinya gue milih program IPA. Naklukin gurunya kali ya? Ahahaha. . . .ketauan
bolehlah, itu bonus.
Akhirnya terjun jugalah gue di
dunia IPA. Di sekolah gue ada 4 kelas IPA. Tiap kelas beda-beda jumlah
muridnya, gue kebagian yang 32 murid sekelas, 12 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Gue sekelas
sama orang-orang yang kebanyakan pada expert dibidangnya, mungkin mereka milih
jurusan gak sama kayak gue -.-“ Nah,
sudah cukup jelas ya tentang IPA-nya sekarang gue akan cerita tentang
MaFiKiBi-nya. Kita awali dengan matematika.
1. Matematika
Pelajaran matematika adalah
pelajaran kesukaanan gue di SMA, soalnya gue gak perlu banyak ngapalin apa-apa,
secara gue pelupa, dan juga merupakan modal gue buat pelajaran kimia dan
fisika, gak heran kenapa matematika disebut ibunya ilmu exact. Selain
pelajarannya, gurunya juga asik banget menurut gue. Hampir semua guru di
sekolah gue pasti ngejelasin prolog dari suatu bab materi yang akan dihadapi,
tapi you know what? Guru yang satu ini enggak, beliau langsung aja memberikan
amanat untuk ngerjain soal dari tiap sub bab materi. Awalnya gue gemes banget,
tapi sekarang gue nyadar dan sangat
berterimakasih. Gue baru nyadar kalo beliau mengajarkan kita untuk membangun
logika kita sendiri, dan itu kerasa banget daripada gue harus disuapin terus
dan tentunya karena disuapin itu gue bakalan susah buat bangun pemahanan gue
sendiri. Nah, yang bikin tambah asik adalah gue gak pernah dimarahin kalo makan
di dikelas sambil ngerjain matematika, malahan beliau suka bilang, “ah, Intan,
makan gak bagi-bagi ibu” hahaha. . .
Matematika itu serasa miniature
dari kehidupan, kita harus ngerti konsep-konsepnya dan perlu banyak pengalaman
buat bisa menyelesaikan suatu masalah. Gue suka kesel ngerjain matematika, udah
belajar matematika ± 10 tahun (sampai awal kelas XI) tapi masih suka salah
ngerjainnya, dikarenakan ketidaktelitian gue. Pernah waktu gue kelas 4 SD, gue
salah nyalin jawaban dari kertas kotretan ke lembar jawaban, alhasil diamuklah
gue yang polos ini waktu sampai rumah sama nyokap. Kalo di SMA gue salah nyalin
jawaban, gue bukan diamukin, malah nyokap gue makin perhatian, karena prihatin
ngeliat kondisi gue yang kurus kering begini galau dan gondok minimal 3 hari.
2. Fisika
Fisika adalah pelajaran kedua
yang gue suka setelah matematika, apalagi kalo udah ngebahas mekanika. Buat
gue, walaupun kita kadang-kadang bener-bener gak ada kerjaan disuruh nyari
panjang lintasan lalat yang bolak-balik jalur kereta, ngitung kecepatan bola
pejal yang menggelinding di bidang miring dari ketinggian 70 meter, nyari
koefisien gesekan statis antara tangga sama lantai yang tangganya udah
didudukin sama monyet, dan hal lain yang lebih kompleks dan lucu lagi, tapi ini
bener-bener asik. Tanpa gak sadar, kita suka ngebayangin dulu kejadiannya terus
kalo udah gak bisa ngerjain kita ketawa sendiri sambil ngutuk soal “What the
h*ll, gue dikerjain sama lalat!”.
Gak semua bab fisika di SMA gue
sukai, otak gue udah gak nyampe kalo udah mikir ke listrik, magnet, fisika
modern dan teman-temannya. Karena kenapa? Karena gue rada susah make otak kanan
gue buat ngebayangin kejadiannya. Yang bisa gue andalin cuma ngapalin rumusnya
aja. Nah, ini dia kesalahan terbesar anak SMA di sekolah gue kayaknya. Hahaha.
Yang kita pikirin: “Gimana caranya minggu ini bisa hidup makmur di lab. Fisika
tanpa kena tangan sakti”.
Karena ketertarikan gue di
bidang fisika mekanika, makanya gue nyari jurusan kuliah yang berhubungan juga
sama passion gue. Setelah gue searching di mana aja buat dapet informasi yang
cukup valid, gue tertarik ngambil teknik sipil. Yah, sekarang ini gue lagi
mencoba buat merealisasikannya. Gak sabar nunggu 28 Mei hmm hanya bisa tawakal
untuk bagian yang satu ini J
3. Kimia
Kalo ngeliat kata ‘kimia’ gue
jadi inget julukan “Kill me a” hahaha sumpah ini berasa banget kalo udah
ulangannya. Sebenernya sih gue bukannya gak suka sama kimia, tapi gue gak
ngerti kenapa gue gak ngerti-ngerti. Gue udah sering belajar sama dewa-dewi di
bidang ini, tapi memang dasar gue aja yang kurang intelek, sampai pernah suatu
hari gue ulangan mendadak tanpa persiapan sama sekali, angka 30-lah yang gue
dapet.
Selama hampir 3 tahun gue
diajarin kimia sama guru yang sama, gue lebih seneng ngedengerin ceramah beliau
tentang kehidupan daripada ngedengerin teori-teori kimia yang beliau jelasin di
depan kelas. Bahkan sampai sekarangpun gue masih suka inget ceramahnya tentang Abdus
Salam dan tentang teman-teman beliau sewaktu muda dulu.
Pelajaran ini sebenernya asik
banget deh kalo udah praktek. Tapi sayang teorinya gak se-asik prakteknya,
apalagi ulangannyaaaa. Padahal praktek itu implikasi dari teori yaa. Dan
ulangan itu. . .ah udah deh. Walaupun begitu gue masih berusaha menyukai
pelajaran ini.
4. Biologi
Ahahah ini dia b-i-o-l-o-g-i.
Pelajaran ini menjadi pelajaran yang paling spektakuler se-angkatan gue.
Sebenernya bukan semata-mata karena pelajarannya aja, tapi karna cara
mengajarnya. Gue pasti kangen berat sama guru yang satu ini, yang udah bikin
gue ngebut bikin makalah biologi kurang dari 20 jam sampai cuma bisa
tidur-tidur ayam, yang udah bikin gue ngebunuh 4 ekor kecoak dalam waktu kurang
dari 30 menit, yang udah bikin gue mutilasi katak sawah buat diambil sel
sarafnya aja. Sir, you are . . .ah undeliverable!
Gue masih inget waktu salah satu
praktek biologi gue dateng telat, dan jas lab belom gue kancingin. “Intan,
dateng telat minus 1”, “Itu jas lab-nya belom dikancingin, jadi minus 2”. Gue
belom punya poin sama sekali udah minus aja, sedih banget L. Tapi harus tetap semangat!
Dan yang terdahsyat dari yang
paling spektakuler adalah ulangannya. Ah, gue bener-bener speechless untuk yang
satu ini. Untuk kelas X ulangan gue cuma kisaran 30-50, untuk kelas XI rada
meningkat 40-70. Dan untuk tahun pertama gue di program IPA, gue gagal (lagi)
naklukin ulangannya, gak pernah lulus sekaliiiii aja. Baru deh kelas XII gue
pernah lulus, itupun sekali-kalinya waktu ulangannya itu adalah materi
presentasi kelompok gue dan nilainya juga pas-pasan KKM. Tapi seenggaknya gue
bisa puas, di SMA gue pernah lulus ulangan biologi walaupun cuma sekali. Entah
ini hal membanggakan atau malah memalukan ya hahaha.
Well,
segitu dulu cerita gue tentang MaFiKiBi yang khususnya ada di sekolah gue. Gue
beruntung banget pernah diajarin sama guru-guru hebat seperti mereka. Bravo!
Jumat, 04 Mei 2012
Snow Outside, Dark Inside
Judul artikel ini, aku ambil dari
jaringan sosial seseorang. Ya, ‘Snow Outside, Dark Inside’, mungkin seperti
inilah pandangan orang tersebut selama ini padaku. Pikiranku masih tidak bisa
berjalan logis –apalagi hatiku yang memang tidak mempunyai otak– saat aku menduga bahwa orang yang paling dekat
dan (seharusnya) menjadi sandaranku beranggapan demikian tentangku. Ah, memang
benar, ekspektasiku terlalu tinggi.
Aku kaku saat kamu bertanya,
“Apa masalahnya, ungkapkan langsung kepadaku”. Kamu tidak tau bagaimana
sulitnya mengungkapkan apa yang aku rasa kepadamu. Terlalu banyak yang sudah
aku pendam darimu, sampai aku bingung dari mana harus aku mulai. Dan disinilah
bodohnya aku, aku hanya diam. Pikiranku menerawang jauh ke hari yang lalu,
teringat lagi bagaimana rasanya. Aku terlalu banyak berpikir konsekuensi dan
resiko yang akan aku dapat bila aku mengungkapkannya kepadamu. Sejujurnya aku
takut, apa yang akan kamu lakukan nanti mengingat kamu tipikal orang yang sulit
ditebak. Aku dijebak oleh buah simalakama.
Akhirnya aku memilih mengendalikan perasaanku
sendiri, yah aku mencari tempat untuk mendapatkan solusi, menemui teman-temanku.
Memang aku tidak selalu mendapatkan solusi untuk keluar dari lingkar ketidaknyamanan
hati, tapi aku selalu mendapatkan kekuatan untuk bisa berdiri sendiri lagi. Ya,
‘Snow Outside’, aku tidak menyalahkanmu atas pernyataan ini. Just snow outside.
Kita selalu mempunyai alasan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang besar,
sesuatu yang kecil, sesuatu yang tidak terduga, apapun itu. Dan kamu juga boleh
mengatakan bahwa ini adalah pembelaanku, kamu juga boleh mengatakan aku hanya
membela diri supaya semua orang menganggapku bagai bidadari. Dan kamu juga
boleh mengatakan aku tidak mau dianggap sebagai peran antagonis, kamu juga
boleh mengatakan aku selalu membuat orang-orang menduga kamulah antagonis. Kamu
boleh. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau. Kamu selalu boleh.
“Kalau aku sih gak mau cerita ke
orang-orang, kesian, nanti mereka jadi berpikir jelek tentang orang yang aku
ceritakan”. Aku terhentak. Kamu benar, kamu benar aku jahat. Aku tidak sampai
berpikir mereka akan menganggapmu jelek saat aku menceritakan masalahku untuk
mendapatkan solusi, karena aku bercerita kepada orang yang juga mengenalmu
dengan baik melebihi aku mengenalmu, kupikir mereka pasti sudah mempunyai
sebuah nilai untukmu jauh sebelumnya. Saat itu yang aku pikirkan adalah
bagaimana caranya aku bertahan untuk tidak jatuh (lagi), yang aku pikirkan
hanyalah diriku sendiri. Ya, ‘Dark Inside’,aku tidak juga menyalahkanmu atas
pernyataan ini. Just dark inside.
Terlalu mahal harga yang harus kita bayar untuk
sebuah kesederhanaan seperti dulu.
Smash the Line
Pernah membaca novel atau
menonton film “The Hunger Games” ? Sebuah karya fiksi yang menceritakan
tentang seorang gadis remaja yang
terikat oleh suatu peraturan untuk menjadi sebuah hiburan dalam suatu permainan
yang mempertaruhkan nyawa. Ide cerita yang unik dan alur cerita yang sulit
ditebak menjadikan novel dan film ini dicari dan dinanti-nanti oleh para
penggemar karya fiksi, tidak heran bila film perdananya diprediksi mendapatkan
banyak piala Oscar .
Coba kita bayangkan jika kita
memerankan sosok Katniss Everdeen dalam cerita tersebut, terikat oleh suatu
peraturan yang tidak pernah kita sepakati, tapi harus dipatuhi. Sampai akhirnya
kita menemukan keberanian untuk meluluhlantahkan peraturan itu dan
menertawakannya dengan puas. Tapi kehidupan memang bukan film, walaupun film
kadang diangkat dari kehidupan.
Kadang kita hanya mencoba
bersabar untuk menjalankan sesuatu yang harus kita jalani, sampai-sampai orang
yang sudah tidak sabar itu ber-quotation “Sabar juga ada batasnya”. Aku tidak
habis pikir masih bisakah kita sebut sabar kalau ada batasnya, mungkin lebih
tepat kalau kita tambahkan sebuah kata di belakangnya, sabar temporer.
…’cos, Talk is cheap.
Kenyataannya aku masih belum mempunyai keberanian untuk ‘Smash the Line’ beberapa
mozaik kehidupan yang ingin aku teriaki. Aku masih terbelenggu oleh aturan yang
tidak pernah aku tandatangani. Tapi aku juga tidak tinggal diam, aku sudah
lebih dulu mengambil tindakan. Misi ini harus berhasil, tidak peduli seberapa
lama prosesnya dan berapa sulit pendakiannya. Karena aku bukan orang yang mempunyai hati yang besar untuk bersabar,
tapi aku mempunyai sekuku keberanian untuk ‘Smah the Line’. Aku hanya perlu
sedikit usaha ekstra (Lho? Hahaha) untuk mengubah sekuku itu menjadi sekepal
dan pass! akan aku smash tepat di garis akhir.
Philosophy of Veil
“Maneh islam, lin? (Kamu pemeluk
islam, bukan?)”, tanya seorang anak laki-laki yang ada di kelasku. Saat itu aku
kelas 3 MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah), dan aku biasa menyebutnya sekolah
agama. Aku tidak begitu heran dengan pertanyaan-pertanyaan atau cemoohan mereka
yang menyinggung seputar keyakinan, jelas saja, aku bersekolah formal di sebuah
yayasan Katholik. Selain itu dengan tampang yang kurang mendukung (chinese
face) terang saja mereka tidak percaya. Aku yang kecil dulu mengamuk
sejadi-jadinya saat pulang sekolah agama tasku dirusak. Kalau hanya dengan
perkataan, aku masih bisa membalas, tapi lain cerita kalau sudah merusak
benda-benda yang aku bawa, mau balas gimana, ukuran badanku kecil, sementara
mereka segerombolan bocah yang berukuran lebih besar dariku. I just go home,
and I quit.
Kejadian-kejadian yang tidak
berkenan seperti itu memang susah untuk dilupakan begitu saja. Rasa sakitnya
saat ditolak oleh kelompok sendiri, membuat perasaanku tak menentu saat menggunakan
kerudung. Apalagi kejadian itu terjadi rutin setiap aku menggunakannya. Padahal itu hanya kerjaan anak kecil yang
pikirannya pendek dan bicara sekenanya. Kalau aku sudah jenuh dengan keadaan
seperti itu, aku malah jadi pusing sendiri, apa aku harus menyalahkan mereka
dengan kefanatikannya? Atau menyalahkan ibuku yang menikah dengan pria
keturunan tionghoa seperti ayahku? Hahaha konyol. Cara satu-satunya ya berdamai
dengan keadaan seperti ini.
Masa SMA menjadi penemuan titik
tenangku dalam masalah ini, tidak ada lagi cemoohan, yang ada hanya
keterkejutan saja. Aku senang keterkejutan mereka menerimaku dengan tangan
terbuka. Di SMA aku benar-benar menemukan diriku yang seharusnya tanpa
pemojokan dan paksaan. Sekarang kerudung untukku tidak lagi/hanya menjadi sebuah tata tertib tertulis di
sekolah. Yaah walaupun aku masih ‘berantakan’ dalam mengenakannya, apalagi
kalau sudah berkumpul dengan keluarga besar ayahku yang notabenenya non muslim,
aku seperti canggung sendiri. Padahal apa salahnya ya? Hahaha.
Seiring waktu berjalan, aku
ingin mendapatkan kekonsistenananku. Bukan hanya mengenakannya saja, tetapi
juga mengaplikasikan ‘sifatnya’. Tidak jarang aku menemukan wanita berkerudung
yang rambutnya dengan sengaja digerai menawan (apa masih layak aku sebut wanita
berkerudung ya?), juga wanita berkerudung yang ‘berjalan dengan om-om’. Menurutku
mereka orang-orang yang menemukan keterpaksaan di dalam kerudungnya, kasihan.
Sering juga aku melihat wanita yang mengenakan kerudung hingga ke lutut, bahkan
sampai memakai sarung tangan. Sepertinya mereka menemukan prinsip hidup di
balik kerudungnya. Dan untukku, si ‘chinesse fece’ ini, aku menemukan kedamaian
di dalam kerudungku. Thank you, Allah, finally You guide me to the who I should
be.
Jumat, 27 April 2012
Menunggu Ketidakpastian
Seminggu setelah Ujian
Nasional, benar-benar merasa seperti pengangguran. Siapa yang tidak ingin
menjadi pengangguran? Semua orang pasti ingin. Maksudku, orang yang nganggur
disini adalah orang yang mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal yang mereka
sukai tanpa paksaan. Dan benar saja seminggu ini (sesuai rencanaku) aku
menghabiskan waktu dengan tidak melakukan kegiatan yang berarti. Tidur-tiduran,
browsing, makan, nonton film, browsing, mandi, tidur-tiduran.
Bagaimana nasib buku-buku
pemantapan menghadapi SNMPTN yang sudah dibeli jauh hari saat liburan semester
4? Dengan sangat bijaksananya, buku-buku
tersebut aku sampul dan aku letakkan di sudut meja kamarku. Buku yang rapi dan
bersih. Tapi sekarang buku - buku itu sudah terletak di lantai kamarku, di
tempat yang selalu kulihat, siapa tau dengan begitu ada sebersit keinginan
untuk mengetahui kemenarikannya.
Yah, tibalah waktunya aku tidak
lagi menjadi pengangguran, seminggu sudah berlalu, dan itu lebih dari cukup.
Aku akan menyusuri keistimewaan buku yang sudah aku beli. Walaupun aku tidak
berharap mengikuti SNMPTN jalur tulis tanggal 12-13 Juni nanti, aku menganggap
hal ini adalah latihan menghadapi program martikulasi. Aih, betapa sombongnya!
Semoga hidup tidak menjatuhkanku dengan indahnya, apalagi kejamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)