Jumat, 14 Juni 2013

Kristal di Matamu

Kalau pilihan tidak boleh dipilih, bukannya kamu sebenarnya sudah memilih?

Hidup sekali, mati sekali, hidup lagi sekali.
Kamu lelah menanti pertolongan.
Bingung. Gelisah. Kesal.
Kamu sendirian.
Harapanmu sederhana, tapi mimpimu tertinggal di bumi.
Dulu, kamu bumi dalam tata surya,
sekarang, bumi dalam bima sakti.
Kamu semakin takut menyadari kamu bumi dalam semesta.
Bahkan, quasar pun tidak dapat melihatmu.

Kamu kecil, dan terpencil.
hanya kamu terus menunggu,
keajaiban, katanya.
Kamu bodoh dan terus dibodoh-bodohi.
Berhentilah.
Semuanya akan berakhir, kecuali akhir.

Larimu tidak bisa lagi cepat, tulangmu sudah remuk,
Hatimu tidak mungkin lagi lelah, sudah hilang.
Jangan lagi berdiri.
Sudahlah.
Jangan terus menangis.
Ah, kamu selalu saja lupa cara bersyukur.

Selasa, 23 April 2013

Confetti



“Let me fly and don’t let me down to the ground.
Let me fly and touch your heart so deeply that I wanted.”


Go away from my way.

Just stand on your way, sit and think.

Don’t you think, I’m your own harlequin.

You never know, I wanna be simple as before as i was should be.

Please, go out of my way.

You know, I miss you so damn bad
and if you can’t pay it, please never go home.

Let this confetti become real confetti.
Hovering in the air as always,
Far, far, and far

Until won't be attracted in gravity and trapped in outer space

Throw, throw, throwing much





Kamis, 04 April 2013

Merindu

Pukul 1.42 a.m. Hari ini ingin sekali pulang, bukan disini, bukan. Entah gimana caranya aku harus pulang. Aku rindu. Walaupun belum lama, tapi aku ingin bertemu. Aku hanya tidak terbiasa dan tidak mau menghadapi hal seperti ini dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk aku bersandar padamu seperti selalu. Sambut aku saat tiba nanti. Peluk aku. Aku rindu. Benar-benar rindu. . .

Sabtu, 16 Maret 2013

Amnesia


     Aku masih ingat, terakhir kita bicara, tentang masa depan. Kamu bersemangat sekali. Bercerita mimpi-mimpimu yang megah dan ketakutanmu akan realitas. Mencari peluang, menembus impian.
     Aku masih ingat, pertama kali kita bercengkrama. Aku banyak bercerita tentang kantong ajaib dan pintu kemana saja. Dan kamu hanya memperhatikan, sambil sesekali tertawa. Tanpa menanggapi kegilaanku akan cerita fantasi.

     Kita memang jarang berbicara tentang kejelasan hati, itu semacam hal sakral yang dikeramatkan. Seolah kita sudah mengerti, tanpa berucap satu katapun. Kita terlalu sering berspekulasi, sampai api lilin yang sekali tiupan mudah padam sudah membakar habis meja makan. Dan tentu saja kita selalu malas membereskan abunya, apalagi menaruh meja makan baru tanpa lilin.
     Selama itu banyak hal yang kita bicarakan, selama itu pula sedikit sekali yang menyinggung keadaan hati. Kita berbicara tentang semesta, tanpa pernah tau yang seharusnya kita tau.

     Aku masih ingat, terakhir kita bertemu. Tidak ada senyuman, apalagi sapaan. Kita berlalu, kita menjadi penderita amnesia. Kita menghindar, jarak kita tidak boleh lebih dekat dari 4 meter.  Kita asyik mencari dan bercerita dengan teman dekat, tanpa pernah ingat, kita dulu lebih dari sekedar teman dekat.
Ya, kita penderita amnesia. Kita... mustahil.

Minggu, 10 Februari 2013

Memulai Lagi

     Halo, sudah hampir 9 bulan ya gak pernah posting tulisan lagi. Kalau di dunia reproduksi ini pasti sudah jadi masa-masa tegang dimana akan ada cucu-cicitnya Adam yang terlahir di dunia, kadang kehadirannya membawa kebahagiaan keluarga yang menunggu, kadang malah membawa malapetaka keluarga yang ditunggu petaka.
      Aku sekarang sudah jadi mahasiswa semester 2 lho, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang yang awalnya memang bukan pilihanku. Dan pilihan awalku dulu juga bukan pilihanku sebenarnya. Dunia jadi ribet saat banyak pilihan, tapi juga jadi sepi kalo gak ada pilihan. Dan jadi tambah ribet lagi kalau menelusuri diri sendiri apa yang sebenarnya ingin kita pilih, realistis selalu tergantung dengan baik di setiap pilihan yang kita tembak.
      Bicara soal kuliahku, ini benar-benar diluar apa yang sudah aku rancang. Be-ran-tak-kan. Yup, aku harus adaptasi dan jadi pribadi baru lagi seperti dulu. Aku selalu beranggapan, aku sudah pernah melalui hal seperti ini, jadi ya gak masalah kalau harus ulangi lagi. Tapi medan yang sekarang berbeda, dan aku cukup babak belur dibuatnya.
      Sebenarnya aku bahagia di perantauan ini, dengan segala kekacauan soal kuliah dan masalah didalamnya, ataupun saat setiap malam selalu nangis minta pulang. Aku senang karena aku bisa mengambil tindakan yang menurutku bijak saat itu. Aku banyak belajar lebih dari apa yang aku pelajari saat pertahananku pertama dulu. Ya, pembelajaran kehidupan itu lebih dari segala-galanya. Dan... mari kita memulai lagi!

Senin, 14 Mei 2012

Kamis dan Air


       Kamis jam 13.30, pertama kali aku bernapas menggunakan paru-paruku sendiri, yup aku sudah ada di dunia walaupun tidak ada yang aku ingat saat itu. Menurut primbon, kamis itu artinya pohon. Tapi entah kenapa aku suka tidak beruntung kalau sudah berhubungan dengan air. Selalu aja ada kejadian tidak terduga dengan air selama study tour di SMA. Apa pohon bermusuhan dengan air ya?

1.       Tahun Pertama
        LIPI dan Dufan menjadi tujuan study tour tahun pertama. Dan kejadian dengan air terjadi waktu bermain arung jeram di dufan. Kapal karet yang aku tumpangi tidak mendapatkan keseimbangan, sehingga saat aku berdiri, aku terjatuh dan terbawa arus sampai masuk ke celah beton. Gelap dan tidak ada udara. Aku mencoba mencari pertahanan supaya tidak terbawa arus, akhirnya jaket yang aku pakai nyangkut, sedikit demi sedikit aku mulai mencari udara. Aku seperti orang linglung antara sadar dan tidak. Aku masih tidak percaya bisa berada di tempat ini.
        Tidak berapa lama ada tangan yang memegang tanganku. Mencoba menarikku keluar, tapi tidak bisa karena aku terperangkap. Arus air langsung terhenti dan petugas dufan menolongku.  Mengangkat tubuhku diantara celah beton yang sempit, kurang dari 15 menit, ternyata waktu begitu lama untuk orang yang ketakutan.

2.       Tahun Kedua
        Tahun kedua ini sebenarnya lebih banyak study-nya. Tujuannya adalah Ujung Genteng, pantai yang masih cukup asri dengan biota pesisir ataupun lautnya, karena tidak terlalu banyak wisatawan yang datang. Kejadiannya terjadi saat mencari biota laut jaraknya mungkin sekitar 50 m dari garis pantai, tapi air mulai pasang sehingga guru pembimbing menyuruh untuk pulang. Terlalu jauh untukku jika harus kembali ke rombongan, sehingga aku memberanikan diri untuk pulang sendiri saja. Tapi ternyata air pasang begitu cepat. Dia kembali lagi ke tempatku, dan menemani sampai tiba di pesisir. Masih orang yang sama. Terima kasih ya.

3.       Tahun Ketiga
        Tahun ini study-nya minim sekali, lebih banyak bersantainya. Objek-objek wisata di Jogjakartalah tujuannya, pati sudah ketebak apa saja objek-objeknya. Aku terlambat menaiki bus, dan langsung saja aku simpan tasku di samping tempat dudukku. “Tan, tasnya disimpen di bagasi bawah”. Langsung aku turun dan menaruhnya, tasku jadi terletak paling dekat pintu garasi karena menaruhnya paling akhir. Perjalanan menuju Jogja cukup lama kurang lebih 15 jam, dan cuaca lebih banyak hujan.
         Tibalah di penginapan, saat aku ambil tasku, ternyata basah. Karena tasnya terbuat dari kain dan air hujan masuk ke celah-selah pintu bagasi dimana tempat tasku berada, jadilah keadaan basahnya sekitar 75% dari keseluruhan barang yang aku bawa. Hari itu sudah pukul 11.30 malam, aku pergi ke receptionist berharap ada laundry kilat sehingga besok pagi aku sudah bisa memakai baju kering. “Tidak bisa, mba. Kalau mau besok pagi jam 8”. Aku pergi ke kamar, mencari akal untuk mengeringkan baju yang ternyata pada luntur. Aku frustasi. Aku cari sabun untuk mencucinya. Ah, lunturnya tak mau pergi! Saat itu pukul 01.00, kulihat teman kamarku sudah tidur semua, aku keluar hotel membawa baju luntur itu. Kemudian, sebelum di gerbang hotel aku bertemu salah satu guru, “Tan, mau kemana?”. Aku menjelaskannya. “Wah jangan sendiri atuh, ditemenin ya, nah itu ada temenmu, To, temenin Intan”. Akhirnya aku ditemani sama temenku yang satu organisasi itu. Waktu sudah pukul 02.00, sekeliling hotel sudah kami telusuri. Hasilnya nihil. Akhirnya kami pulang. Terima kasih ya, To.
         Pukul 05.00, aku meminjam setrikaan warga, akhirnya cukup kering juga walaupun masih bisa terasa dinginnya air yang menyerap di baju yang aku pakai. Lalu baju yang luntur, aku titipkan di laundry sebelum pergi menuju tempat tujuan kami di Jogja.

         Semoga tidak ada pengalaman buruk dengan air lagi. Tapi lewat kejadian-kejadian ini, aku bersyukur ada orang-orang yang masih peduli dan baik yang mau menolongku. Sekali lagi, Terima kasih, ya.

Hey, water, please, to be my friend. Sincerely, the tree.

MaFiKiBi


        Pertama-tama aku mau  minta izin untuk mengubah kata ‘aku’ menjadi ‘gue’, entah kenapa artikel ini sedikit banyak menuju ke hal-hal konyol selama di SMA, dan kata ‘gue’ benar-benar sangat menunjang sensasinya.
         Baiklah kita mulai, judul artikel ini bukan sengaja dibikin alay. MaFiKiBi: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, bagaikan nasi buat gue yang memang milih program IPA. Kenapa gue cerita tentang MaFiKiBi? Karena gue anak IPA. Kenapa gue milih program IPA? Karena waktu kelas X gue selalu diremed biologi. Lho? Kok? Iya, jadi gini gue penasaran banget buat naklukin biologi di SMA jadinya gue milih program IPA. Naklukin gurunya kali ya? Ahahaha. . . .ketauan bolehlah, itu bonus.
         Akhirnya terjun jugalah gue di dunia IPA. Di sekolah gue ada 4 kelas IPA. Tiap kelas beda-beda jumlah muridnya, gue kebagian yang 32 murid sekelas, 12 orang  laki-laki dan 20 orang perempuan. Gue sekelas sama orang-orang yang kebanyakan pada expert dibidangnya, mungkin mereka milih jurusan gak sama kayak gue -.-“  Nah, sudah cukup jelas ya tentang IPA-nya sekarang gue akan cerita tentang MaFiKiBi-nya. Kita awali dengan matematika.

1.       Matematika
          Pelajaran matematika adalah pelajaran kesukaanan gue di SMA, soalnya gue gak perlu banyak ngapalin apa-apa, secara gue pelupa, dan juga merupakan modal gue buat pelajaran kimia dan fisika, gak heran kenapa matematika disebut ibunya ilmu exact. Selain pelajarannya, gurunya juga asik banget menurut gue. Hampir semua guru di sekolah gue pasti ngejelasin prolog dari suatu bab materi yang akan dihadapi, tapi you know what? Guru yang satu ini enggak, beliau langsung aja memberikan amanat untuk ngerjain soal dari tiap sub bab materi. Awalnya gue gemes banget, tapi  sekarang gue nyadar dan sangat berterimakasih. Gue baru nyadar kalo beliau mengajarkan kita untuk membangun logika kita sendiri, dan itu kerasa banget daripada gue harus disuapin terus dan tentunya karena disuapin itu gue bakalan susah buat bangun pemahanan gue sendiri. Nah, yang bikin tambah asik adalah gue gak pernah dimarahin kalo makan di dikelas sambil ngerjain matematika, malahan beliau suka bilang, “ah, Intan, makan gak bagi-bagi ibu” hahaha. . .
          Matematika itu serasa miniature dari kehidupan, kita harus ngerti konsep-konsepnya dan perlu banyak pengalaman buat bisa menyelesaikan suatu masalah. Gue suka kesel ngerjain matematika, udah belajar matematika ± 10 tahun (sampai awal kelas XI) tapi masih suka salah ngerjainnya, dikarenakan ketidaktelitian gue. Pernah waktu gue kelas 4 SD, gue salah nyalin jawaban dari kertas kotretan ke lembar jawaban, alhasil diamuklah gue yang polos ini waktu sampai rumah sama nyokap. Kalo di SMA gue salah nyalin jawaban, gue bukan diamukin, malah nyokap gue makin perhatian, karena prihatin ngeliat kondisi gue yang kurus kering begini galau dan gondok minimal 3 hari.

2.       Fisika
          Fisika adalah pelajaran kedua yang gue suka setelah matematika, apalagi kalo udah ngebahas mekanika. Buat gue, walaupun kita kadang-kadang bener-bener gak ada kerjaan disuruh nyari panjang lintasan lalat yang bolak-balik jalur kereta, ngitung kecepatan bola pejal yang menggelinding di bidang miring dari ketinggian 70 meter, nyari koefisien gesekan statis antara tangga sama lantai yang tangganya udah didudukin sama monyet, dan hal lain yang lebih kompleks dan lucu lagi, tapi ini bener-bener asik. Tanpa gak sadar, kita suka ngebayangin dulu kejadiannya terus kalo udah gak bisa ngerjain kita ketawa sendiri sambil ngutuk soal “What the h*ll, gue dikerjain sama lalat!”.
          Gak semua bab fisika di SMA gue sukai, otak gue udah gak nyampe kalo udah mikir ke listrik, magnet, fisika modern dan teman-temannya. Karena kenapa? Karena gue rada susah make otak kanan gue buat ngebayangin kejadiannya. Yang bisa gue andalin cuma ngapalin rumusnya aja. Nah, ini dia kesalahan terbesar anak SMA di sekolah gue kayaknya. Hahaha. Yang kita pikirin: “Gimana caranya minggu ini bisa hidup makmur di lab. Fisika tanpa kena tangan sakti”.
          Karena ketertarikan gue di bidang fisika mekanika, makanya gue nyari jurusan kuliah yang berhubungan juga sama passion gue. Setelah gue searching di mana aja buat dapet informasi yang cukup valid, gue tertarik ngambil teknik sipil. Yah, sekarang ini gue lagi mencoba buat merealisasikannya. Gak sabar nunggu 28 Mei hmm hanya bisa tawakal untuk bagian yang satu ini J

3.       Kimia
          Kalo ngeliat kata ‘kimia’ gue jadi inget julukan “Kill me a” hahaha sumpah ini berasa banget kalo udah ulangannya. Sebenernya sih gue bukannya gak suka sama kimia, tapi gue gak ngerti kenapa gue gak ngerti-ngerti. Gue udah sering belajar sama dewa-dewi di bidang ini, tapi memang dasar gue aja yang kurang intelek, sampai pernah suatu hari gue ulangan mendadak tanpa persiapan sama sekali, angka 30-lah yang gue dapet.
          Selama hampir 3 tahun gue diajarin kimia sama guru yang sama, gue lebih seneng ngedengerin ceramah beliau tentang kehidupan daripada ngedengerin teori-teori kimia yang beliau jelasin di depan kelas. Bahkan sampai sekarangpun gue masih suka inget ceramahnya tentang Abdus Salam dan tentang teman-teman beliau sewaktu muda dulu.
          Pelajaran ini sebenernya asik banget deh kalo udah praktek. Tapi sayang teorinya gak se-asik prakteknya, apalagi ulangannyaaaa. Padahal praktek itu implikasi dari teori yaa. Dan ulangan itu. . .ah udah deh. Walaupun begitu gue masih berusaha menyukai pelajaran ini.

4.       Biologi
          Ahahah ini dia b-i-o-l-o-g-i. Pelajaran ini menjadi pelajaran yang paling spektakuler se-angkatan gue. Sebenernya bukan semata-mata karena pelajarannya aja, tapi karna cara mengajarnya. Gue pasti kangen berat sama guru yang satu ini, yang udah bikin gue ngebut bikin makalah biologi kurang dari 20 jam sampai cuma bisa tidur-tidur ayam, yang udah bikin gue ngebunuh 4 ekor kecoak dalam waktu kurang dari 30 menit, yang udah bikin gue mutilasi katak sawah buat diambil sel sarafnya aja. Sir, you are . . .ah undeliverable!
         Gue masih inget waktu salah satu praktek biologi gue dateng telat, dan jas lab belom gue kancingin. “Intan, dateng telat minus 1”, “Itu jas lab-nya belom dikancingin, jadi minus 2”. Gue belom punya poin sama sekali udah minus aja, sedih banget L. Tapi harus tetap semangat!
          Dan yang terdahsyat dari yang paling spektakuler adalah ulangannya. Ah, gue bener-bener speechless untuk yang satu ini. Untuk kelas X ulangan gue cuma kisaran 30-50, untuk kelas XI rada meningkat 40-70. Dan untuk tahun pertama gue di program IPA, gue gagal (lagi) naklukin ulangannya, gak pernah lulus sekaliiiii aja. Baru deh kelas XII gue pernah lulus, itupun sekali-kalinya waktu ulangannya itu adalah materi presentasi kelompok gue dan nilainya juga pas-pasan KKM. Tapi seenggaknya gue bisa puas, di SMA gue pernah lulus ulangan biologi walaupun cuma sekali. Entah ini hal membanggakan atau malah memalukan ya hahaha.

         Well, segitu dulu cerita gue tentang MaFiKiBi yang khususnya ada di sekolah gue. Gue beruntung banget pernah diajarin sama guru-guru hebat seperti mereka. Bravo!