Kamis, 07 November 2013

Manusia

Sebenarnya aku lebih suka menyampaikan maksudku dengan lisan, tapi karena suaraku tidak bagus, aku memilih untuk menulis, walaupun tulisanku juga tidak bagus, tapi masih lebih baik daripada suaraku. Setidaknya itu menurutku. Lagipula disini lebih menyenangkan, aku tidak butuh siapapun untuk hanya sekedar mendengar pun, apalagi mengomentari. Karena aku tidak butuh pendapat orang lain saat ini. Aku hanya butuh menyampaikan maksudku, pikiranku, hatiku.

Dan semua orang sama saja, tidak ada yang benar-benar mengerti. Mereka dan aku dinamakan manusia, aku baru mengerti sekarang, tidak sempurna, mereka dan aku hanya diberi akal, tapi itu tidak selalu baik. Untuk urusan mengerti, binatang peliharaan masih lebih baik. Tapi jangan disamakan manusia dengan ibu, ibu itu malaikat.

Aku korelis bergolongan darah A. Aku tidak suka dibicarakan dari belakang, tentang keburukanku dan bahkan kebaikanku sekalipun. Maka dari itu aku tidak senang mendengarkan orang lain tentang sifat orang yang lainnya. Aku hanya senang mendengarkan manfaat mereka untuk orang lain. Karena menurutku, seperti itulah mereka seharusnya berfungsi. Untukku, sifat tidak ada asyiknya untuk dibicarakan, hanya perlu dimengerti dalam hati. Banyak orang mengatakan aku manusia aneh. Mungkin itulah yang membuatku tidak punya banyak teman dekat, bahkan sepertinya nyaris tidak ada. Aku belajar beradaptasi, tapi itu membuatku menjadi bukan aku. Aku jadi seperti menipu diri sendiri, tapi tak apalah, mereka juga penipu. Demi hidup disini, aku rela melakukannya, karna ibu selalu berdoa untukku dan karna doa malaikat lebih dekat dengan Tuhan.


Sabtu, 02 November 2013

"Wajahku Diganti"

Hujan deras malam ini, sepertinya bumi tambah sakit. Belum waktunya, tapi hujan seperti ini sudah berjalan lebih dari 1 minggu.

'Malaikat juga Tahu' mengantar mata terpejap malam ini, setelah lelah karna kemacetan dari Solo.
Alunan akustiknya, suara merdunya berlomba kalahkan deras hujan. Bukan karna alasan, lagu ini begitu sempurna untuk mengaca diri. Tepat 25 jam setelah memutar ingatan lama bersama teman lama.

Malu mengakuinya.
Aku begitu haus untuk air yang hanya secangkir, cangkir mainan. Dan selalu lapar untuk sepotong kue keras dengan strawberi yang tak pernah membusuk.
Diselimuti gaun indah, sepatu mengkilap. Mencoba habisi waktu sore dengan damai.
Dan kamu selalu mengajakku jalan keluar dari tempat ini. Sambil merayu, "Nanti kita beli cangkir porselin dan teh melati, kue yang bisa kau tusuk dengan garpu dan tentunya manis, gaun yang lebih cantik dan penuh renda, sepatu kaca yang mengkilau...."

Sayang, aku bukan sekedar tidak bisa mendengar apa yang kamu
bilang, aku juga tidak pernah ingat apakah kita pernah bertemu.
Yang aku tau, bicara dan berlama-lama dengan orang asing itu tidak baik.

Kamis, 22 Agustus 2013

Bagi Saja Aku Jadi Dua

Mau bagimana kalau harus memilih dua hal yang harus ada.
Tidak boleh dipilih, jadi jangan paksa aku.
Bagi saja aku jadi dua,
sampai remuk seperti serpihan kue lebaran.
Atau musnahkan saja aku,
hingga kehilangan menjadi pelajaran yang melekat di hati.
Cukup adil kan?

Jumat, 14 Juni 2013

Kristal di Matamu

Kalau pilihan tidak boleh dipilih, bukannya kamu sebenarnya sudah memilih?

Hidup sekali, mati sekali, hidup lagi sekali.
Kamu lelah menanti pertolongan.
Bingung. Gelisah. Kesal.
Kamu sendirian.
Harapanmu sederhana, tapi mimpimu tertinggal di bumi.
Dulu, kamu bumi dalam tata surya,
sekarang, bumi dalam bima sakti.
Kamu semakin takut menyadari kamu bumi dalam semesta.
Bahkan, quasar pun tidak dapat melihatmu.

Kamu kecil, dan terpencil.
hanya kamu terus menunggu,
keajaiban, katanya.
Kamu bodoh dan terus dibodoh-bodohi.
Berhentilah.
Semuanya akan berakhir, kecuali akhir.

Larimu tidak bisa lagi cepat, tulangmu sudah remuk,
Hatimu tidak mungkin lagi lelah, sudah hilang.
Jangan lagi berdiri.
Sudahlah.
Jangan terus menangis.
Ah, kamu selalu saja lupa cara bersyukur.

Selasa, 23 April 2013

Confetti



“Let me fly and don’t let me down to the ground.
Let me fly and touch your heart so deeply that I wanted.”


Go away from my way.

Just stand on your way, sit and think.

Don’t you think, I’m your own harlequin.

You never know, I wanna be simple as before as i was should be.

Please, go out of my way.

You know, I miss you so damn bad
and if you can’t pay it, please never go home.

Let this confetti become real confetti.
Hovering in the air as always,
Far, far, and far

Until won't be attracted in gravity and trapped in outer space

Throw, throw, throwing much





Kamis, 04 April 2013

Merindu

Pukul 1.42 a.m. Hari ini ingin sekali pulang, bukan disini, bukan. Entah gimana caranya aku harus pulang. Aku rindu. Walaupun belum lama, tapi aku ingin bertemu. Aku hanya tidak terbiasa dan tidak mau menghadapi hal seperti ini dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk aku bersandar padamu seperti selalu. Sambut aku saat tiba nanti. Peluk aku. Aku rindu. Benar-benar rindu. . .

Sabtu, 16 Maret 2013

Amnesia


     Aku masih ingat, terakhir kita bicara, tentang masa depan. Kamu bersemangat sekali. Bercerita mimpi-mimpimu yang megah dan ketakutanmu akan realitas. Mencari peluang, menembus impian.
     Aku masih ingat, pertama kali kita bercengkrama. Aku banyak bercerita tentang kantong ajaib dan pintu kemana saja. Dan kamu hanya memperhatikan, sambil sesekali tertawa. Tanpa menanggapi kegilaanku akan cerita fantasi.

     Kita memang jarang berbicara tentang kejelasan hati, itu semacam hal sakral yang dikeramatkan. Seolah kita sudah mengerti, tanpa berucap satu katapun. Kita terlalu sering berspekulasi, sampai api lilin yang sekali tiupan mudah padam sudah membakar habis meja makan. Dan tentu saja kita selalu malas membereskan abunya, apalagi menaruh meja makan baru tanpa lilin.
     Selama itu banyak hal yang kita bicarakan, selama itu pula sedikit sekali yang menyinggung keadaan hati. Kita berbicara tentang semesta, tanpa pernah tau yang seharusnya kita tau.

     Aku masih ingat, terakhir kita bertemu. Tidak ada senyuman, apalagi sapaan. Kita berlalu, kita menjadi penderita amnesia. Kita menghindar, jarak kita tidak boleh lebih dekat dari 4 meter.  Kita asyik mencari dan bercerita dengan teman dekat, tanpa pernah ingat, kita dulu lebih dari sekedar teman dekat.
Ya, kita penderita amnesia. Kita... mustahil.