Hujan deras malam ini, sepertinya bumi tambah sakit. Belum waktunya, tapi hujan seperti ini sudah berjalan lebih dari 1 minggu.
'Malaikat juga Tahu' mengantar mata terpejap malam ini, setelah lelah karna kemacetan dari Solo.
Alunan akustiknya, suara merdunya berlomba kalahkan deras hujan. Bukan karna alasan, lagu ini begitu sempurna untuk mengaca diri. Tepat 25 jam setelah memutar ingatan lama bersama teman lama.
Malu mengakuinya.
Aku begitu haus untuk air yang hanya secangkir, cangkir mainan. Dan selalu lapar untuk sepotong kue keras dengan strawberi yang tak pernah membusuk.
Diselimuti gaun indah, sepatu mengkilap. Mencoba habisi waktu sore dengan damai.
Dan kamu selalu mengajakku jalan keluar dari tempat ini. Sambil merayu, "Nanti kita beli cangkir porselin dan teh melati, kue yang bisa kau tusuk dengan garpu dan tentunya manis, gaun yang lebih cantik dan penuh renda, sepatu kaca yang mengkilau...."
Sayang, aku bukan sekedar tidak bisa mendengar apa yang kamu
bilang, aku juga tidak pernah ingat apakah kita pernah bertemu.
Yang aku tau, bicara dan berlama-lama dengan orang asing itu tidak baik.
Sabtu, 02 November 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
Bagi Saja Aku Jadi Dua
Mau bagimana kalau harus memilih dua hal yang harus ada.
Tidak boleh dipilih, jadi jangan paksa aku.
Bagi saja aku jadi dua,
sampai remuk seperti serpihan kue lebaran.
Atau musnahkan saja aku,
hingga kehilangan menjadi pelajaran yang melekat di hati.
Cukup adil kan?
Tidak boleh dipilih, jadi jangan paksa aku.
Bagi saja aku jadi dua,
sampai remuk seperti serpihan kue lebaran.
Atau musnahkan saja aku,
hingga kehilangan menjadi pelajaran yang melekat di hati.
Cukup adil kan?
Jumat, 14 Juni 2013
Kristal di Matamu
Kalau pilihan tidak boleh dipilih, bukannya kamu sebenarnya sudah memilih?
Hidup sekali, mati sekali, hidup lagi sekali.
Kamu lelah menanti pertolongan.
Bingung. Gelisah. Kesal.
Kamu sendirian.
Harapanmu sederhana, tapi mimpimu tertinggal di bumi.
Dulu, kamu bumi dalam tata surya,
sekarang, bumi dalam bima sakti.
Kamu semakin takut menyadari kamu bumi dalam semesta.
Bahkan, quasar pun tidak dapat melihatmu.
Kamu kecil, dan terpencil.
hanya kamu terus menunggu,
keajaiban, katanya.
Kamu bodoh dan terus dibodoh-bodohi.
Berhentilah.
Semuanya akan berakhir, kecuali akhir.
Larimu tidak bisa lagi cepat, tulangmu sudah remuk,
Hatimu tidak mungkin lagi lelah, sudah hilang.
Jangan lagi berdiri.
Sudahlah.
Jangan terus menangis.
Ah, kamu selalu saja lupa cara bersyukur.
Hidup sekali, mati sekali, hidup lagi sekali.
Kamu lelah menanti pertolongan.
Bingung. Gelisah. Kesal.
Kamu sendirian.
Harapanmu sederhana, tapi mimpimu tertinggal di bumi.
Dulu, kamu bumi dalam tata surya,
sekarang, bumi dalam bima sakti.
Kamu semakin takut menyadari kamu bumi dalam semesta.
Bahkan, quasar pun tidak dapat melihatmu.
Kamu kecil, dan terpencil.
hanya kamu terus menunggu,
keajaiban, katanya.
Kamu bodoh dan terus dibodoh-bodohi.
Berhentilah.
Semuanya akan berakhir, kecuali akhir.
Larimu tidak bisa lagi cepat, tulangmu sudah remuk,
Hatimu tidak mungkin lagi lelah, sudah hilang.
Jangan lagi berdiri.
Sudahlah.
Jangan terus menangis.
Ah, kamu selalu saja lupa cara bersyukur.
Selasa, 23 April 2013
Confetti
“Let me fly and don’t let me down to the ground.
Let me fly and touch your heart so deeply that I wanted.”
Go away from my way.
Just stand on your way, sit and think.
Don’t you think, I’m your own harlequin.
You never know, I wanna be simple as before as i was should
be.
Please, go out of my way.
You know, I miss you so damn bad
and if you can’t pay it, please never go home.
and if you can’t pay it, please never go home.
Let this confetti become real confetti.
Hovering in the air as always,
Far, far, and far
Until won't be attracted in gravity and trapped in outer
space
Throw, throw, throwing much
Throw, throw, throwing much
Kamis, 04 April 2013
Merindu
Pukul 1.42 a.m. Hari ini ingin sekali pulang, bukan disini, bukan. Entah gimana caranya aku harus pulang. Aku rindu. Walaupun belum lama, tapi aku ingin bertemu. Aku hanya tidak terbiasa dan tidak mau menghadapi hal seperti ini dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk aku bersandar padamu seperti selalu. Sambut aku saat tiba nanti. Peluk aku. Aku rindu. Benar-benar rindu. . .
Sabtu, 16 Maret 2013
Amnesia
Aku masih ingat, terakhir kita bicara, tentang masa depan.
Kamu bersemangat sekali. Bercerita mimpi-mimpimu yang megah dan ketakutanmu
akan realitas. Mencari peluang, menembus impian.
Aku masih ingat, pertama kali kita bercengkrama. Aku banyak
bercerita tentang kantong ajaib dan pintu kemana saja. Dan kamu hanya
memperhatikan, sambil sesekali tertawa. Tanpa menanggapi kegilaanku akan cerita
fantasi.
Kita memang jarang berbicara tentang kejelasan hati, itu
semacam hal sakral yang dikeramatkan. Seolah kita sudah mengerti, tanpa berucap
satu katapun. Kita terlalu sering berspekulasi, sampai api lilin yang sekali tiupan
mudah padam sudah membakar habis meja makan. Dan tentu saja kita selalu malas
membereskan abunya, apalagi menaruh meja makan baru tanpa lilin.
Selama itu banyak hal yang kita bicarakan, selama itu pula sedikit
sekali yang menyinggung keadaan hati. Kita berbicara tentang semesta, tanpa
pernah tau yang seharusnya kita tau.
Aku masih ingat, terakhir kita bertemu. Tidak ada senyuman,
apalagi sapaan. Kita berlalu, kita menjadi penderita amnesia. Kita menghindar,
jarak kita tidak boleh lebih dekat dari 4 meter. Kita asyik mencari dan bercerita dengan teman
dekat, tanpa pernah ingat, kita dulu lebih dari sekedar teman dekat.
Ya, kita
penderita amnesia. Kita... mustahil.
Minggu, 10 Februari 2013
Memulai Lagi
Halo, sudah hampir 9 bulan ya gak pernah posting tulisan lagi. Kalau di dunia reproduksi ini pasti sudah jadi masa-masa tegang dimana akan ada cucu-cicitnya Adam yang terlahir di dunia, kadang kehadirannya membawa kebahagiaan keluarga yang menunggu, kadang malah membawa malapetaka keluarga yang ditunggu petaka.
Aku sekarang sudah jadi mahasiswa semester 2 lho, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang yang awalnya memang bukan pilihanku. Dan pilihan awalku dulu juga bukan pilihanku sebenarnya. Dunia jadi ribet saat banyak pilihan, tapi juga jadi sepi kalo gak ada pilihan. Dan jadi tambah ribet lagi kalau menelusuri diri sendiri apa yang sebenarnya ingin kita pilih, realistis selalu tergantung dengan baik di setiap pilihan yang kita tembak.
Bicara soal kuliahku, ini benar-benar diluar apa yang sudah aku rancang. Be-ran-tak-kan. Yup, aku harus adaptasi dan jadi pribadi baru lagi seperti dulu. Aku selalu beranggapan, aku sudah pernah melalui hal seperti ini, jadi ya gak masalah kalau harus ulangi lagi. Tapi medan yang sekarang berbeda, dan aku cukup babak belur dibuatnya.
Sebenarnya aku bahagia di perantauan ini, dengan segala kekacauan soal kuliah dan masalah didalamnya, ataupun saat setiap malam selalu nangis minta pulang. Aku senang karena aku bisa mengambil tindakan yang menurutku bijak saat itu. Aku banyak belajar lebih dari apa yang aku pelajari saat pertahananku pertama dulu. Ya, pembelajaran kehidupan itu lebih dari segala-galanya. Dan... mari kita memulai lagi!
Aku sekarang sudah jadi mahasiswa semester 2 lho, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang yang awalnya memang bukan pilihanku. Dan pilihan awalku dulu juga bukan pilihanku sebenarnya. Dunia jadi ribet saat banyak pilihan, tapi juga jadi sepi kalo gak ada pilihan. Dan jadi tambah ribet lagi kalau menelusuri diri sendiri apa yang sebenarnya ingin kita pilih, realistis selalu tergantung dengan baik di setiap pilihan yang kita tembak.
Bicara soal kuliahku, ini benar-benar diluar apa yang sudah aku rancang. Be-ran-tak-kan. Yup, aku harus adaptasi dan jadi pribadi baru lagi seperti dulu. Aku selalu beranggapan, aku sudah pernah melalui hal seperti ini, jadi ya gak masalah kalau harus ulangi lagi. Tapi medan yang sekarang berbeda, dan aku cukup babak belur dibuatnya.
Sebenarnya aku bahagia di perantauan ini, dengan segala kekacauan soal kuliah dan masalah didalamnya, ataupun saat setiap malam selalu nangis minta pulang. Aku senang karena aku bisa mengambil tindakan yang menurutku bijak saat itu. Aku banyak belajar lebih dari apa yang aku pelajari saat pertahananku pertama dulu. Ya, pembelajaran kehidupan itu lebih dari segala-galanya. Dan... mari kita memulai lagi!
Langganan:
Postingan (Atom)
